Kamis, 03 Mei 2012

Memaknai Keunikan Budaya dalam Sastra

Raudal Tanjung Banua
(Riau Pos, 17 Maret 2013)


Sastra adalah dunia yang unik. “Dunia jungkir balik,” kata Budi Darma. Justru keunikan itulah yang menjadi pertaruhan seorang sastrawan, tak mesti dalam bentuk, tapi lebih pada persfektif. Cara pandang pengarang yang unik akan sangat menentukan dunia yang dibangunnya, meskipun secara bentuk (struktur) biasa saja. Cerpen dan novel Kuntowijoyo bisa sebagai pintu masuk apa yang saya maksud. Secara bentuk karya Kuntowijoyo boleh dikatakan konvensional, namun prilaku dan pandangan tokoh-tokohnya berhasil mengusung sisi budaya (Jawa) yang inkonvensional. Yaitu, sisi budaya yang tidak gampang dimaknai, sebab meskipun terlihat sederhana, ia sesungguhnya sangat kompleks.
Lihat misalnya cerpen “Anjing-anjing Menyerbu Kuburan” (1996). Kuntowijoyo menceritakan seorang laki-laki mencari pesugihan dengan menggali kuburan orang yang meninggal pada Selasa Kliwon. Dia harus mengambil sepasang telinga mayat itu. Sekilas, kita akan menganggap tokoh itu abnormal, takhyul dan mistik. Namun sebenarnya kepercayaan itu bukan milik ia seorang. Sebab nyatanya kuburan orang yang meninggal pada hari Anggara Kasih itu dijaga petugas kampung selama tujuh hari tujuh malam. Jadi kepercayaan semacam itu bersifat kolektif (Ah, bagaimanakah memvonis kepercayaan kolektif sebagai irasional?)
Singkat cerita, laki-laki itu harus mengelabui warga yang bertugas menjaga kuburan, tentu, dengan memenuhi semua syarat yang diminta sang guru. Ia harus menaburkan beras kuning supaya penjaga tertidur. Menggali kuburan harus dengan tangan telanjang (tak boleh pakai alat bantu). Lalu mengambil telinga mayat langsung memakai mulut (tak boleh pakai tangan). Meski lagi-lagi terdengar irasional, toh ketika syarat itu dipenuhi ternyata efeknya memang berhasil meninabobokkan para penjaga makam (Bagaimanakah cara menolak hubungan syarat dan efek yang ditimbulkannya?). Meski di luar dugaan, anjing-anjing yang tak diketahui asalnya datang menyerbu kuburan sehingga laki-laki itu kelimpungan sampai tak terasa fajar telah datang. Ia pingsan diserbu anjing-anjing, bersamaan terbangunnya para penjaga makam. Sebagian mereka menuding,”Pencuri!” Yang lain membela,”Penyelamat!”
Sampai di sini, cerita bercabang dua, bahkan bercabang banyak; tidak hitam tidak putih. Jangankan kita sebagai pembaca, bahkan para pelaku cerita pun tak dapat memutuskan apa yang sebenarnya terjadi. Masing pihak punya pendapat dan anggapannya sendiri. Begitu pulalah pembaca, jelas tak mudah menjatuhkan vonis benarkah dia penyelamat ataukah pecundang. Inilah contoh sederhana bagaimana keunikan dalam sastra tidak bisa dimaknai secara hitam-putih. Meskipun karya yang diresepsi bukan karya yang eksprimental dalam bentuk, namun berkat persfektif yang unik, terjadi penajaman tema sehingga ia menghadirkan dunia yang tak biasa.

Keunikan Budaya Etnik
Tentu tidak kalah banyaknya pula hasil sastra Indonesia yang tajam dalam persfektif sekaligus unik dalam bentuk. Cerpen-cerpen Danarto dalam Godlob (1976) dan Adam Ma’rifat (1982) misalnya, sama-sama berangkat dari budaya Jawa, dalam hal ini dunia Kejawen. Sambil mengeksplorasi “keajaiban” atau mungkin “kegaiban” dunia Kejawen, Danarto sekaligus memanfaatkan “keajaiban” dan “kegaiban” itu sebagai kendaraan cerita sehingga menghasilkan bahasa serta kalimat-kalimat mistis yang mengalir, bebas mengembara serupa angin, jumpalitan serupa roh-roh halus bahkan malaikat yang turun ke bumi. Tentu memaknainya jauh lebih sulit, setidaknya tak semudah menuding “bahasanya kacau, ceritanya tak masuk akal”—jika tak mau dianggap serampangan.
Jelas pula, keunikan dalam sastra tak hanya dibentuk oleh keunikan budaya lokal (etnik) tertentu, dia bisa juga berupa dunia modern (urban, metroplis, diaspora) sebagaimana dapat ditemukan dalam cerpen/novel Putu Wijaya, Iwan Simatupang atau Budi Darma. Akan tetapi, disadari atau tidak, keunikan budaya Nusantara (budaya etnik) menjadi salah satu pilar yang banyak menyumbang keunikan dunia sastra modern Indonesia. Keunikan tersebut tak hanya menyangkut situasi fisik dan ritual tapi juga pandangan hidup, sistem sosial, bahkan dunia batin pemilik kebudayaan itu. Lebih dari sekedar memperkaya diskursus lokalitas, keunikan budaya itu mesti dipandang sebagai sumur inspirasi sastrawan tanah air sekaligus sumber spirit kehadiran nilai-nilai alternatif di tengah dominannya standar nilai yang baku.
Sebutlah dunia ronggeng dalam novel Ahmad Tohari, Ronggeng Dukuh Paruk (1981).  Dunia ronggeng dihadirkan tak sekedar yang tampak, alih-alih eksotis, tapi tak kalah penting dunia batin dan nilai yang diusung para pelakunya. Jauh sebelum dilayarlebarkan menjadi Sang Penari, tokoh Srintil telah menjadi simbol dunia pe-ronggeng-an yang tak hanya  menggoyang Rasus dan masyarakat Dukuh Paruk. Ia bahkan menggoyang pikiran masyarakat umum (di luar teks) yang mempertanyakan kejumudan tradisi serta kepatutan nilai-nilai. Patutkah seorang perempuan desa “dikorbankan” dalam ritual dengan hasrat libido massal? Apakah artinya tradisi jika penari mesti “dipersembahkan” kepada lelaki yang memiliki uang? Dan tradisi itu dibiarkan bahkan dipelihara oleh komunitas masyarakat bersangkutan!
Gugatan-gugatan normatif yang berseliweran di luar teks tentu saja dengan sendirinya ikut berada di luar “tanggung jawab” sebuah teks. Sebab ketahuilah, sastra, dalam hal ini Ronggeng Dukuh Paruk tidak mendedahkan risalah moral, dan jika pun ada (dan seharusnya memang ada), tidaklah dengan cara yang verbal. Sastra melihat dunia ronggeng sebaik para pelaku budaya ronggeng menjaga tradisinya. Mereka misalnya percaya bahwa ronggeng adalah simbol kesuburan. Menjadi ronggeng tak semudah mengencingi umbi singkong sebagaimana dilakukan Rasus dan kawan-kawannya. Bahwa menjadi ronggeng mesti memenuhi “isyarat langit, isyarat bumi”, dan seorang ronggeng adalah ia yang “terpilih”. Oleh karena itu, berbagai ritual eksotik yang membakar suasana malam seisi desa adalah sah. Bahkan “upacara buka kelambu” bukanlah sesuatu yang tabu, alih-alih kehormatan. Maka, sebagaimana ronggeng punya “pakem”-nya sendiri, sastra pun mesti percaya pada kekuatan “pakem”-nya yang dikenal sebagai konvensi—unsur-unsur intrinsik/ekstrinsik yang melekat pada dirinya itu. Salah satu yang terpenting adalah persfektif, sudut pandang, dari mana nilai-nilai “kebenaran” bukan dalam takaran hitam atau putih.

Dunia Warok
Lebih jauh tentang ini, tak kalah menarik melihat budaya “unik” Nusantara lainnya, yakni dunia warok. Han  Gagas dalam novel perdananya, Tembang Tolak Bala (LKiS Yogyakarta, Mei 2011) mengangkat kesenian reog Ponorogo. Tak sekedar penampilannya yang atraktif dan indah, melainkan segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan di “belakang panggung”—dan ini jauh lebih menantang.
Salah satunya adalah kehidupan warok, pelaku utama reog. Sosok dan laku hidup warok didedah secara terbuka. Seorang warok menjalani ritual-ritual khusus demi menjaga kesaktiannya. Susuk dan meditasi di sanggar pamujaan adalah dua di antaranya. Namun yang paling membedakan dengan yang lain—karena berhubungan langsung dengan lingkungan sosial—ialah pantangannya untuk bercampur dengan perempuan. Konon, lelaku yang diturunkan dari Klonosewandono, pendiri Kerajaan Bentar Angin yang kelak dikenal sebagai Wengker, itu, pada mulanya dihasratkan untuk menjaga kesucian dirinya sebagai calon raja. Dalam prakteknya kemudian, pantangan itu memunculkan gemblak sebagai kata kunci berikutnya dalam khazanah seni reog Ponorogo, di mana warok  akan memelihara seorang anak laki-laki (gemblak) sebagai “kawan intim”.
            Demikianlah cerita tentang warok dan gemblak kemudian mengisi hampir separoh halaman novel ini. Lewat tokoh “aku” (Hargo) kita bisa mengikuti dengan jelas dunia warok dan per-gemblak-an. Tak lain karena Hargo seorang bocah yang dijadikan gemblak oleh warok paling terkenal di wilayah bekas kerajaan Wengker: Eyang Tejowulan. Meskipun sang Eyang punya istri, Nyi Tejo atau Eyang Putri, dan Hargo pun punya orang tua, bahkan ia masih kerabat Tejowulan. Ini menunjukkan bahwa dunia gemblak memiliki kultur sendiri yang “sah” karena semua berlangsung “sepengetahuan” ayah, ibu, istri dan anggota masyarakat semua. Bahkan tidak jarang prosesi lamaran seorang gemblak dilaksanakan secara besar-besaran, sebagaimana disaksikan sendiri oleh Hargo: Seorang dandan atau wakil dari pelamar (warok) beserta rombongannya menaiki dokar. Dokar itu taklah berlenggang tangan, di dalamnya terusung segala jenis bawaan: berslop-slop rokok, gula tebu, berkarung-karung beras, abon-abon pisang raja dan sirih-kinang. Di tengah rombongan dituntun seekor sapi atau kerbau, sebagai mahar “perkawinan”. Semua bawaan itu diserahkan pada orang tua calon gemblak.” (hal. 56).
Tentu saja “bayaran” yang diperoleh secara sosial bukan hanya benda-benda pinangan itu, namun juga kehormatan dan lebih jauh pengetahuan dan “kesaktian” warok yang biasanya diwarisi kepada si gemblak. Itulah sebabnya, sejarah dan mitologi, seni beladiri dan keterampilan menabuh jadi pelajaran setiap malam seperti didapatkan Hargo. Ia mendapatkan cerita tentang sejarah Wengker, Majapahit, Demak, SI, PKI atau Madiun. Ia pun mengenal tokoh-tokoh Ki Ageng Mirah, Ki Ageng Kutu, Raden Patah, bahkan Soekarno. Meski prosesi “pinangan” itu kadang berjalan tidak dalam keadaan “normal”: jika orang tua menolak lamaran warok akibatnya bisa fatal. Termasuk istri warok yang memiliki nestapanya sendiri: cemburu, iri dan ingin hidup normal sebagaimana keluarga lain.
Nah, bagaimanakah memaknai “dunia jungkir-balik” yang tak sesuai dengan kaidah masyarakat luas dan di luar standar moralitas umum itu? Sesuai hakikat sastra yang kaya interpretasi, dunia yang dihadirkan bukan untuk dinilai benar-salah atau hitam putihnya.  Sejungkir-balik apa pun dunia yang dihadirkan, itulah realitas (budaya) kita, itulah dunia kita. Dan sastra merupakan medium paling “ideal” untuk menghadirkan realitas itu, dengan segala keunikan yang tak bertara, sebab sejatinya ”sastra tidak bicara dengan bahasa langit, melainkan bahasa bumi.” Akan tetapi, cerita akan menjadi lain jika keunikan budaya dengan segala nilai-nilai “alternatif”-nya itu hanya disajikan sebatas permukaan, sebatas eksotisme banal (di ruang manakah interpretasi harus ditempatkan?). Dan lebih parah lagi jika keunikan itu dieksploitasi. Fenomena terakhir ini cenderung menguat dalam sastra mutakhir tanah air: “dunia jungkir-balik sastra” dijadikan medium buat beraneh-aneh, akrobatik bahasa dan berisi serba sensasi. Nah!

(Raudal Tanjung Banua, Koordinator Komunitas Rumahlebah dan Ketua Redaksi Jurnal Cerpen Indonesia)






Tidak ada komentar:

Posting Komentar