Rabu, 21 Mei 2014

Pengantar Kurang Penting

Cukup lama blog saya ini tertutup, dulu blog ini cukup ramai dengan sejumlah pengunjung beserta komentarnya, namun tiba-tiba suatu hari terserang virus sehingga saya memutuskan menutupnya.

Sekarang saya buka lagi, sejumlah cerita urung ditampilkan karena sekian alasan, post terbaru adalah catatan saya tentang novel Mahbub Djunaidi sebagai bekal diskusi di Solo.  

Semoga bermanfaat.



Resepsi Bacaan Sebuah Penanda Kesekian

Pengantar diskusi novel "Dari Hari Ke Hari" karya Mahbub Djunaidi
Catatan Han Gagas

Akhir-akhir ini karena tak punya kerjaan dan hanya sedikit menulis saya jadi agak banyak membaca, diantaranya adalah novel Lorong Midaq karya Naguib Mahfouz seorang peraih nobel sastra dari Mesir, buku cerita pendek Catatan Harian Orang Gila karya Lu Xun, dan disusul “Dari Hari Ke Hari” karya Mahbub Djunaidi yang jadi pemenang sayembara mengarang roman DKJ 1974.

Senin, 18 Maret 2013

Realitas Magis

Esai Beni Setia
(Suara Karya, 1 Oktober 2011)



TERMIN realisme ini merujuk ke konteks sastra, secara naif diartikan sebagai narasi deskripsif yang mengungkap aspek kehidupan riil/nyata secara langsung, lugas dan cermat. Meski sesungguhnya kenyataan obyektif tidak bisa utuh ditampilkan dan dikenali lagi seperti apa adanya, karena yang ditampilkan di dalam teks itu kenyataan yang telah diseleksi serta digarisbawahi kepentingan subyektif pengarang. Karena itu lahir sastra bercorak realisme psikis, realisme subyektif (James Joyce, Frans Kafka), atau bahkan realisme magis (Edgar Allan Poe). 

Selasa, 15 Mei 2012

Tantangan Miterealis Han Gagas

Esai Kumpulan Cerpen Ritual
Oleh Saifur Rohman

Cerpen-cerpen Indonesia mutakhir diwarnai oleh komodifikasi yang bisa disingkat dengan jimat "cerpen koran". Bentuknya ringkas, isinya padat, dikemas dengan gaya yang unik, selesailah. Seperti membuat pop mie; cepat saji, segar, dan gurih.
Di tengah-tengah komodifikasi itu, kumpulan cerpen bertajuk Ritual  (2012) karya Han Gagas sesungguhnya bisa diapresiasi sebagai sebuah perlawanan yang betul-betul berani terhadap kemasan cerpen koran. Sungguh pun tidak bisa dimungkiri, 17 cerita dalam kumpulan cerpen sebagian besar sudah dipublikasikan di media lokal maupun nasional. Cerpen-cerpennya tidak mengangkat fakta segar, tetapi mengaduk-aduk ingatan lama yang terkubur di bawah sadar sebagai trauma. 

Kamis, 03 Mei 2012

Memaknai Keunikan Budaya dalam Sastra

Raudal Tanjung Banua
(Riau Pos, 17 Maret 2013)


Sastra adalah dunia yang unik. “Dunia jungkir balik,” kata Budi Darma. Justru keunikan itulah yang menjadi pertaruhan seorang sastrawan, tak mesti dalam bentuk, tapi lebih pada persfektif. Cara pandang pengarang yang unik akan sangat menentukan dunia yang dibangunnya, meskipun secara bentuk (struktur) biasa saja. Cerpen dan novel Kuntowijoyo bisa sebagai pintu masuk apa yang saya maksud. Secara bentuk karya Kuntowijoyo boleh dikatakan konvensional, namun prilaku dan pandangan tokoh-tokohnya berhasil mengusung sisi budaya (Jawa) yang inkonvensional. Yaitu, sisi budaya yang tidak gampang dimaknai, sebab meskipun terlihat sederhana, ia sesungguhnya sangat kompleks.

Sabtu, 04 Februari 2012

Tokoh, Latar, dan Plot dalam Cerita Pendek


Materi Workshop Menulis
Tokoh [watak]          
            Ketika membaca sebuah cerita pendek, saya bisa merasa demikian larut karena tokoh utamanya begitu imajinatif. Dari sejumlah tokoh yang diceritakan cerpenis dan novelis Yudhi Herwibowo misalkan, saya masih terkenang dengan tokoh perempuan cantik yang bertubuh wangi sehingga kemana-mana dia selalu diikuti [dikerubungi] dengan ribuan kupu-kupu. Coba bayangkan, perempuan cantik dengan rambut panjang dan dikerubuti ribuan kupu-kupu yang  berwarna-warni, wow, menajubkan bukan.

Jumat, 04 November 2011

Seorang Peranakan yang Suka Berbicara dan Berimajinasi Sendirian

Wawancara dengan Mardi Luhung
Han Gagas
http://pawonsastra.blogspot.com/

Saya pertama kali mengenal nama Mardi Luhung -seingat saya- di lembar puisi di koran nasional. Seingat saya dua kali muncul. Nama itu lalu mengambang di kepala saya. Hingga suatu ketika saya menemukan nama itu lagi di lembar cerpen koran nasional yang lain. Karena cerpen adalah bidang penulisan yang saya geluti, saya membaca cerpennya itu, dan saya sedikit bengong akan imajinasinya yang ndladrah-ndladrah, mengalir dan mengocor terus. Saya mulai mengingat nama Mardi Luhung di benak saya.