Seperti ada kerlip cahaya cinta di sana. Rasanya tak ada kesedihan di dunia ini jika melihatnya sedang tertawa. Cinta sejati mengatasi segala perbedaan, agama dan etnis, namun bisa hancur oleh bengisnya kekuasaan yang daya bunuhnya sampai ke jantung perasaan. Cinta sejati tak memikirkan diri sendiri. Berhari-hari, berminggu-minggu, bertahun-tahun aku menggelandang seperti orang gila. Cinta tahu ke mana arah pulang.
Minggu, 09 Oktober 2016
Bersama Joko Pinurbo dan Putu Fajar Arcana
Di suatu siang bersama Jokpin dan Bli Can di Pelataran berlatar Candi Borobudur yang memesona. Berlanjut bersama Jokpin hingga malam sampai dini hari ditambah Emak Oke Rusmini, F. Azis Manna dan Norman Erikson. Sayang, n lupa, n mungkin pula tak perlu tanpa dokumentasi. Lain waktu moga bisa ngobrol lagi.
Kamis, 12 Mei 2016
Kamis, 03 September 2015
Apresiasi film pendek atas buku Catatan Orang Gila
Dunia Luar Story by Han Gagas Short Movie adalah sebuah film pendek karya Lentera Production yang mengangkat cerita dalam buku Catatan Orang Gila dengan sutradara Debi Sinta Dewi dan editor Lukman Pangestu. Interpretasi teksnya cerdas berdasar suara pilu korban politik. Sebuah bentuk apresiasi yang istimewa. Saksikan film pendek yang sangat menyentuh hati ini.
https://www.youtube.com/watch?v=Vco76LtdLG8
https://www.youtube.com/watch?v=Vco76LtdLG8
Selasa, 28 Juli 2015
Apresiasi atas buku-buku karya Han Gagas
“Han Gagas
mengembalikan fungsi sastra yang menyuarakan humanisme dan antitesis atas
maraknya cerpen-cerpen Indonesia dewasa ini yang lebih mirip curahan hati
penulis, narsistik, dan gejolak asmara belaka.”
- Teguh Afandi, Harian Singgalang
“Menurutku, ini
salah satu buku yang bagus dan recommended untuk dibaca. Tema yang diambil
tidak umum. Bayangkan, tentang orang gila!
Do you always wonder
what's in crazies' minds? This might answer some of your questions. This book
reminds us, that crazy people are human too. They have their pasts, their
stories that are hidden because they are not able to speak what's on their
minds. They have feelings, too.
Cerita-cerita di
dalamnya ada yang bikin kamu tersenyum geli, sedih, bahkan ikut bersimpati
dengan karakter yang ada di dalamnya. Pokoknya, buku ini harus kamu masukkan
dalam daftar bacaanmu tahun ini!”
- Elga Novriska, Goodreads
“Tokoh dalam Catatan Orang Gila merindukan
dirinya sebagai nabi baru untuk menyebarkan ajarannya pada manusia.”
- Harian JogloSemar
“Novela ini menarik karena mampu
membuat kita sadar bahwa kegilaan bukanlah hal yang aneh dan asing. Tokoh-tokoh
yang dianggap gila yang dikisahkan Han Gagas adalah tokoh yang mengalami trauma
dan siksa psikologis.”
- Arif Yudistira, Harian Solopos
“Terma realisme magis dalam karya Han Gagas merujuk ke narasi teks
deskripsif yang nyata dan realistis tapi dengan logika yang magis non-riil atau
surealis penuh keajaiban hantu atau alam jin siluman -dibedakan dengan keunikan
teknologik dan alien yang bersipat sci-fic.”
- Beni Setia, Harian Suara
Karya
“Tak sekedar ‘penampilannya yang atraktif dan indah’, melainkan
segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan di “belakang panggung”—dan
karya Han Gagas ini jauh lebih menantang.”
- Raudal
Tanjung Banua, Harian Riau Pos
Cara
Han Gagas menampilkan kepiluan bukanlah lipstik. Caranya melukiskan kegetiran
bukanlah amatiran. Dalam Catatan
Orang Gila, Han Gagas tak hanya mampu menempatkan dirinya sebagai subjek, tapi
juga objek kegilaan itu sendiri. Kepiluan dan kegetiran ia balut dalam plot
yang utuh. Benar-benar seperti yang dikatakannya dalam halaman dedikasi: Dunia
waras orang-orang gila dan dunia gila orang-orang waras.
- Stebby Julionatan,
Harian Tribun Jogja
Setiap orang yang berkunjung ke perpustakaan di rumah, selalu
saya sarankan membaca buku Catatan Orang Gila karya Han Gagas.
- Ahmad Tohari, sastrawan, penulis Ronggeng
Dukuh Paruk
Tulisan Han Gagas juga mengangkat tujuan para petualang.
Petualang Eropa melakukan penjelajahan dengan tujuan mencari sumber kekayaan
alam. Tujuan lebih humanis ditunjukkan Battuta dan Cheng Ho, yakni beribadah,
menambah ilmu, dan mengenalkan negeri asalnya.
-Koran Tempo
Buku Han Gagas ini memuat kisah-kisah penjelajahan yang
sangat luar biasa. Di buku inilah kita temukan hikmah hidup yang lebih dalam,
memetik pelajaran berharga dari semangat juang, kebaikan, persaingan,
keserakahan, kekejaman, kepahitan, hingga rasa putus asa.
-D’Sari
Magazine
Dunia Luar Story by Han
Gagas Short Movie
adalah sebuah film pendek karya Lentera Production yang mengangkat cerita dalam
buku Catatan Orang Gila dengan sutradara Debi Sinta Dewi dan editor Lukman
Pangestu. Interpretasi teksnya cerdas berdasar suara pilu korban politik.
Sebuah bentuk apresiasi yang istimewa. Saksikan film pendek yang sangat
menyentuh hati ini.
https://www.youtube.com/watch?v=Vco76LtdLG8
Pencapaian
yang bagus dari buku Catatan Orang Gila
ini terdapat dalam novela Catatan tentang
Hantu dan Kisah dari Bangsal. Han Gagas menawarkan tuturan berlapis:
dialog, catatan harian orang lain, dan gambar-gambar yang dimaksudkan dibuat
oleh pasien rumah sakit jiwa. Penguatan variasi-variasi komponen cerita
tersebut sedikit banyak mampu meyakinkan pembaca. Terasa benar ada riset yang
mendahului dan lebih baik hasilnya ketimbang karya-karyanya yang lain.
- Eko Triono, Koran Merapi
Tidak
ada orang yang terlahir gila. Orang dengan gangguan jiwa bisa menimpa siapa
saja tanpa mengenal profesi, status, lingkungan, dan kekayaan. Orang waras
banyak yang jadi gila. Apa yang tidak mungkin di dunia ini? Suara-suara tak
nyata yang diyakini orang-orang tertentu. Kasus yang sulit diterima karena kita
langsung menganggap “gila” dan tidak masuk akal. Alasan dan akibatnya yang
bikin menjadi logis. Pelajari saja tokoh-tokoh dalam Catatan Orang Gila karya
Han Gagas.
-Sari
Novita, ruang baca TEMPO.CO (indonesiana)
Han Gagas secara terhormat mencoba menjadi wakil suara
atas orang gila. Karyanya menunjukkan perlawanan atas ideologi, atas sejarah,
atas kemelaratan.
-kompasiana
Jumat, 24 April 2015
Sabtu, 11 April 2015
Resensi Buku Catatan Orang Gila di Solopos
Resensi buku kumpulan cerita "Catatan Orang Gila" (Gramedia Pustaka Utama, 2014) di Solopos, 5 April 2014 oleh Arif S Yudistira
Selasa, 03 Maret 2015
Humanisme Cerpen Han Gagas
Oleh Teguh Afandi (Singgalang, 1 Maret 2015)

Usai membaca buku “Catatan Orang Gila” milik Han Gagas, ingatan kita akan terbawa pada slogan Seno Gumira Ajidarma bahwa ketika jurnalisme terbungkam, sastra bicara. Han Gagas mengisahkan orang-orang yang termarginalkan. Kehadiran kumpulan cerpen ini seolah mengembalikan fungsi sastra yang menyuarakan humanisme dan antitesis atas maraknya cerpen-cerpen Indonesia dewasa ini yang lebih mirip curahan hati penulis, narsistik, dan gejolak asmara belaka.
Buku ini menggambarkan masyarakat lapisan bawah yang dipotret penulis melalui kerangka cerpen yang tidak seberapa panjang. Mereka yang tidak pernah dipandang serius oleh masyarakat bisa menjadi raja dalam buku ini. Determinasi gila dan waras sejatinya hanyalah bentukan orang waras. Maka sangat mungkin dalam benak orang gila, orang waras justru masuk dalam kategori gila. Sehingga akan muncul ambigu, sebenarnya siapa yang gila. Mereka yang dekil, gimbal, tidak berpakaian, dan menceracau sepanjang jalan. Ataukah mereka yang berdasi, berposisi tinggi, bertitleadiluhung yang suka menyiksa sesama dan menghalalkan segala cara?
Di cerpen “Orang Gila” pembaca ditampar oleh logika orang gila, Katanya aku gila karena tubuhku yang menjijikan dengan rambut gimbal sebahu, celana kumal robek bau apak, dada telanjang penuh daki, meracau sepanjang jalan, dan tertawa-tawa sendirian. Padahal menurutku, aku sama sekali tidak gila. (hal.5)
Bahkan di cerpen tersebut, narator yang dianggap orang gila oleh khalayak justru lebih menghormati anjing liar ketimbang manusia. Manusia yang mengaku waras, justru tidak berlaku sopan sesama manusia. Jangankan dikasihani, diuluri recehan, kebanyakan ditoleh saja tidak (hal.7). Sebaliknya seekor anjing selalu menyisihkan sisa makanan saat si orang gila datang ke tumpukan sampah.
Tekanan Luar
Kondisi ganjil yang dialami tokoh-tokoh dalam cerpen ini hampir semua disebabkan karena peristiwa besar yang mengoyak nalar dan membuat depresi. Kekuatan mahabesar dari luar menekan mereka yang menjadi korban dan menyisakan sembilu menahun. Korban-korban dalam buku ini menderita secara psikologis.
Kekuatan pertama yang membuat banyak tokoh menjadi gila adalah gejolak politik yang melibatkan kaum berseragam. Dua peristiwa sejarah yang disinggung adalah peristiwa 1965 dan kerusuhan 1998. Simbol-simbol yang mengingatkan kita pada peristiwa berdarah 1965 berserakan di beberapa cerpen. Di cerpen “Bangunan Itu Menelan Ibu dan Bulanku” ada celurit atau arit tak boleh ada dalam mulut kita. Nanti kita bakal dikira komunis (hal.36). Atau kabar terbunuhnya para jenderal di Jakarta itu menyulut bara api hingga di pelosok desa ini (hal.43) yang membuat Eyang Warok, seniman reog menjadi korban pembersihan PKI.
Ada juga seorang ibu yang terus mengenang putrinya yang menjadi korban kerusuhan 98 dan terus menaburkan bunga (cerpen “Ibu Itu Kembali Menaburkan Bunga”). Polisi juga memiliki peran untuk menciptakan tekanan psikologis dalam cerpen “Kematian Wirobogel” , “Si Gila”, dan “Topeng Satpol PP”.
Kekuatan selanjutnya adalah peliknya ekonomi. Seorang menjadi gila karena menjamurnya swalayan (Si Gila), kegelisahan burung karena alih fungsi lahan (Perjalanan Sepasang Burung Gereja), gerundelan si gembel (Dialog Si Gembel dan Pohon Mangga), atau kisah pengemis (Tuhan Melimpahi Kejeniusan pada Iblis).
Ada juga keganjilan yang bersumber dari persoalan individu. Misal Redi Kelud yang autis, gila lantaran putus cinta, atau kegilaan karena pelecehan seksual.
Cara Mencatat
Selain pilihan tema humanisme dan pembelaan pada kaum marginal, Han Gagas jelas memiliki ketelatenan dalam mencatat. Ketelatenan ini dapat terlihat dari bagaimana ketenangan dalam bercerita. Seperti di cerpen “Antara Rumah dan Kebun” penulis mendiskripsikan suasana rumah di kala malam dengan tenang. Sehingga suasana malam terasa semakin syahdu. Tenang dan romantis juga dirasakan ketika membaca cerpen “Perjalanan Sepasang Burung Gereja”.
Kesabaran dan ketelatenan penulis dalam mencatat semua kisah juga tampak dari bagaimana bahasa yang dipergunakan tidak neko-neko dan tidak berusaha membelokkan cerita hingga menjadi kejutan bagi pembaca. Penulis mengerti bahwa cerpen memiliki batasan yang tidak begitu panjang. Sehingga tidak dibutuhkan liukan-liukan dalam bercerita. Alur dan tokoh bergerak sedemikian tenang dan menghunjam di pikiran pembaca. Yang dibutuhkan pembaca adalah beberan kisah dan tragisnya korban yang menjadi fokus penceritaan.
Kehidupan wong cilik semakin terasa oleh pembaca ketika dipergunakan point of view orang pertama. Sehingga ketika tokoh ngedumel, maka pembaca secara langsung terlibat. Mungkin ini adalah salah satu cara mendekatkan pembaca dengan konflik wong cilik yang bisa jadi adalah dunia yang sangat jauh dengan pembaca. Mau tidak mau, antara pengarang/pembaca dan tokoh dalam cerpen terdapat jarak tingkat keterpelajaran, strata sosial, background ekonomi, dan wawasan pergaulannya yang luas. Pada posisi ini Han Gagas sudah berhasil memasukkan penghayatan dan pembaca akan tersentuh.
Hingga opini kita sedikit bergeser ketika melihat orang gila, gembel, pengemis, gelandangan di pinggir jalan. Bagi mereka dunianya tak kalah gelap. Tapi dalam kegelapan, mereka masih bisa merasakan cahaya Tuhan. (*)
Identitas Buku:
Judul : CATATAN ORANG GILA
Penulis : Han Gagas
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Oktober 2014
Halaman : 184 halaman
ISBN : 978-602-03-0904-0
Judul : CATATAN ORANG GILA
Penulis : Han Gagas
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Oktober 2014
Halaman : 184 halaman
ISBN : 978-602-03-0904-0
Langganan:
Postingan (Atom)



